3 Comments

  1. Gusti Arjuna

    Dibalik Kontroversi Lagu Gundul Pacul. Meluruskan berdasarkan perspektif filosofi Hindu.

    Banyak yang memaksakan menterjamahkan filosofi lagu dolanan ini tapi tak jelas sumbernya sehingga pada gembelengan semua karena tidak tahu sejarah.
    Pacul dan Wakul adalah simbol tanggung jawab yang diemban Pasangan Suami Istri dalam ritual upacara Tegen – tegenan (simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala).
    Pacul sebagai simbol Ardha Candra sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma dibawa mempelai pria dalam ritual.
    Cangkul yang gundul artinya adalah seorang suami yang mulai merosot dari ajaran Dharma sehingga dikatakan gembelengan (edan)
    Wakul/bakul yang dijinjing mempelai
    wanita, yang berisi talas, kunir, beras
    dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
    Nyunggi wakul artinya wanita harus menjaga jinjingannya pada saat menebar benih tetapi karena malas menjinjing sang wanita menyunggi bakul yang dikatakan gembelengan (edan) karena akan sulit dalam menabur benih.
    Akibatnya Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
    Bakul terguling dan benih-benih tumpah ke mana-mana.
    Artinya seorang suami harus terus mengamalkan dharma, dan seorang wanita harus menjaga kehormatannya.
    Jika ditulis sang wali, Apakah islam mengenal bakul dan cangkul beserta filosofinya? Apa dasar cangkul yang gundul diartikan seorang bocah gundul dan petani membawa cangkul, yang kita tahu seorang pemimpin tidak hanya memikul tanggung jawab petani saja tapi pendeta, tentara, ilmuwan, pedagang, dsb.
    Kesalah kaprahan ini dibuat agar kebudayaan kita dibanggakan sebagai kebudayaan yang berkiblat ke Arab. Begitu juga lagu daerah yang lain yang diplesetkan.
    Jika ingin mengkritik pemerintah gunakan cara yang benar bukan dengan menafsirkan seenak udel.
    Secara filosofi yang melekat dalam Hindu tentunya lagu ini bukanlah ciptaan para wali karena dari segi.keyakinan dan filosifinya saja tidak sama. Lagu dolanan yang sarat.akan filosofi sudah ada sejak Majapahit merupakan bagian dari penyampaian isi Weda melalui seni bahkan sejak sebelum majapahit.
    Lagu ini digubah kembali dalam bahasa jawa oleh R.C. Hardjosubroto,

    • Terima kasih buat tambahannya. Tentunya komentar anda menjadi referensi tambahan bagi pembaca2 selanjutnya. Tidak ada maksud jelek dalam penulisan artikel ini, tujuan utamanya ialah untuk mengajak para pembaca untuk lebih peduli dengan Indonesia karena nasib Indonesia sebenarnya tidak tergantung pada pemerintsh saja tetapi seluruh rakyatnya, karena bukankah pemerintah berasal dari rakyat?

      Bagi saya, berasal dari manapun warisan kebudayaan itu , itu adalah milik Indonesia, saya ikut bangga. Selain itu karena ada kata konon berarti memang belum tentu sahih kebenarannya. Sekali lagi terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *